Kamis, 26 Desember 2013

Libur Sekolah= Back to Kampoeng
Dede Rohimah

Libur telah tiba...
Libur telah tiba...
Hore..hore..horeee...
            Aku ingat banget ketika berumur 7 tahun aku sering menyanyikan lagu ini. Lagu ini seakan menjadi hits di kalangan anak-anak khususnya ketika libur sekolah telah datang. Ya, namanya juga anak SD, aku berpikir bahwa libur sekolah adalah waktu ketika tak ada lagi belajar, dan merupakan waktu ketika semua orang pergi jalan-jalan dan rekreasi sesuka hatinya. Dan anehnya pikiran seperti itu bertahan sampai aku menginjak SMP bahkan SMA.
            Tapi, sekarang sebagian besar pikiran tersebut cenderung berbeda. Aku sudah menjadi mahasiswa yang sekolah di perguruan tinggi. Sekarang aku tinggal jauh dari orang tua dan saudara. Oleh karena itu, walaupun merupakan pengalaman pertama libur sekolah jauh dari orang tua, bagiku libur sekolah tidak lagi bermakna sebagai waktu untuk jalan-jalan dan rekreasi. Tapi libur sekolah berarti back to kampung, yaitu waktu aku harus kembali ke kampung halaman untuk bertemu dengan orang tua dan saudara.
            Hari pertama liburan aku lewati dengan ritual pulang kampung ala anak-anak kost. Tas ransel super besar, bekal makanan, dan oleh-oleh sudah lengkap menemani perjalanan kali ini. Aku putuskan untuk pulang menggunakan kereta api. Karena menurut pengalamanku pulang pergi ke Bandung dengan berbagai kendaraan, menurutku kereta api masih menempati tempat teratas sebagai transportasi yang nyaman untuk pulang kampung. Walaupun harus sudah berangkat ke stasiun pagi-pagi buta, tapi aku akui bahwa naik kereta api lebih cepat karena tidak akan ada macet, lebih murah, dan suasana di atas kereta api yang riuh oleh nyanyian para pedagang menjajakan dagangannya sangat aku sukai.  Tak jarang aku tertawa sendiri mendengar slogan-slogan yang dikatakan mereka  ditambah dengan logat bahasa yang berwarna-warni. Terkadang hal itu menjadi sangat unik. “Kipas, kipas...tisu,tisu...kipas tisu..”
            Tak ada banyak hal memang yang bisa dilakukan di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Tapi banyak hal pula yang tidak bisa didapat di kota justru hanya ada di desa. Setelah hari pertama berlalu dengan berbagai pengalaman menarik di perjalanan, hari ke-2, ke-3, dan berikutnya pun sangat menarik. Di rumah aku bisa merasakan hangatnya suasana keluarga. Selain itu, aku juga bisa bertemu dengan 4 keponakan jagoanku yang sangat nakal. Dari mulai si Bayi Kecil yang setiap aku gendong selalu pipis, sampai si sulung yang mulai menginjak remaja dan selalu ingin mencoba hal-hal baru.

            Selain itu, di kampung aku belajar bercocok tanam di sawah. Awalnya aku melakukannya dengan terpaksa karena aku pikir di sawah itu panas, kotor, bau, ini, itu, bla, bla, bla. Tapi setelah terjun langsung ke sawah, pikiran tersebut sirna. Ternyata sawah sangat menyenangkan. Bukannya belajar bercocok tanam aku malah asyik bermain lumpur dengan keponakanku. Aku juga sangat bersemangat untuk mencari keong dan belalang di sawah. Karena terlalu semangatnya, sampai waktu seharian pun tak terasa. Jadi walaupun hanya menghabiskan waktu libur di kampung, bagiku semuanya sangat seru dan menyenangkan. Semuanya justru membuat aku sadar bahwa kalau kata orang liburan itu mencari kedamaian hati setelah berbagai aktifitas berat yang dilakukan, maka kedamaian itu justru aku temukan di kampung halaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar