Libur Sekolah= Back to Kampoeng
Dede Rohimah
Libur telah tiba...
Libur telah tiba...
Hore..hore..horeee...
Aku
ingat banget ketika berumur 7 tahun aku sering menyanyikan lagu ini. Lagu ini
seakan menjadi hits di kalangan anak-anak khususnya ketika libur sekolah telah
datang. Ya, namanya juga anak SD, aku berpikir bahwa libur sekolah adalah waktu
ketika tak ada lagi belajar, dan merupakan waktu ketika semua orang pergi
jalan-jalan dan rekreasi sesuka hatinya. Dan anehnya pikiran seperti itu
bertahan sampai aku menginjak SMP bahkan SMA.
Tapi,
sekarang sebagian besar pikiran tersebut cenderung berbeda. Aku sudah menjadi
mahasiswa yang sekolah di perguruan tinggi. Sekarang aku tinggal jauh dari
orang tua dan saudara. Oleh karena itu, walaupun merupakan pengalaman pertama
libur sekolah jauh dari orang tua, bagiku libur sekolah tidak lagi bermakna
sebagai waktu untuk jalan-jalan dan rekreasi. Tapi libur sekolah berarti back to kampung, yaitu waktu aku harus
kembali ke kampung halaman untuk bertemu dengan orang tua dan saudara.
Hari
pertama liburan aku lewati dengan ritual pulang kampung ala anak-anak kost. Tas
ransel super besar, bekal makanan, dan oleh-oleh sudah lengkap menemani
perjalanan kali ini. Aku putuskan untuk pulang menggunakan kereta api. Karena
menurut pengalamanku pulang pergi ke Bandung dengan berbagai kendaraan,
menurutku kereta api masih menempati tempat teratas sebagai transportasi yang
nyaman untuk pulang kampung. Walaupun harus sudah berangkat ke stasiun
pagi-pagi buta, tapi aku akui bahwa naik kereta api lebih cepat karena tidak
akan ada macet, lebih murah, dan suasana di atas kereta api yang riuh oleh
nyanyian para pedagang menjajakan dagangannya sangat aku sukai. Tak jarang aku tertawa sendiri mendengar
slogan-slogan yang dikatakan mereka ditambah dengan logat bahasa yang
berwarna-warni. Terkadang hal itu menjadi sangat unik. “Kipas,
kipas...tisu,tisu...kipas tisu..”
Tak
ada banyak hal memang yang bisa dilakukan di sebuah desa yang jauh dari hiruk
pikuk keramaian kota. Tapi banyak hal pula yang tidak bisa didapat di kota
justru hanya ada di desa. Setelah hari pertama berlalu dengan berbagai
pengalaman menarik di perjalanan, hari ke-2, ke-3, dan berikutnya pun sangat
menarik. Di rumah aku bisa merasakan hangatnya suasana keluarga. Selain itu,
aku juga bisa bertemu dengan 4 keponakan jagoanku yang sangat nakal. Dari mulai
si Bayi Kecil yang setiap aku gendong selalu pipis, sampai si sulung yang mulai
menginjak remaja dan selalu ingin mencoba hal-hal baru.
Selain
itu, di kampung aku belajar bercocok tanam di sawah. Awalnya aku melakukannya
dengan terpaksa karena aku pikir di sawah itu panas, kotor, bau, ini, itu, bla,
bla, bla. Tapi setelah terjun langsung ke sawah, pikiran tersebut sirna.
Ternyata sawah sangat menyenangkan. Bukannya belajar bercocok tanam aku malah
asyik bermain lumpur dengan keponakanku. Aku juga sangat bersemangat untuk
mencari keong dan belalang di sawah. Karena terlalu semangatnya, sampai waktu
seharian pun tak terasa. Jadi walaupun hanya menghabiskan waktu libur di kampung,
bagiku semuanya sangat seru dan menyenangkan. Semuanya justru membuat aku sadar
bahwa kalau kata orang liburan itu mencari kedamaian hati setelah berbagai
aktifitas berat yang dilakukan, maka kedamaian itu justru aku temukan di
kampung halaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar